Tentang Standar Uji Pengawetan Kayu

0
124

Dalam dunia penggunaan hasil hutan, pengawetan kayu memerankan peranan penting sebagai pelindung hingga kayu tersebut digunakan. Mari kita lihat bagaimana sebenarnya pengawetan berjalan.

Dalam kehidupan sehari-hari kita banyak melihat penggunaan kayu sebagai bahan konstruksi bangunan dan alat perlengkapan rumah tangga. Kayu merupakan bahan organik yang terdiri dari unsur karbon (50%) dan sedikit unsur-unsur lain.

Kayu memilki karakteristik yang tidak dijumpai pada bahan lain; yaitu (1) tersedia hampir diseluruh bagian dunia, (2) mudah diperoleh dalam berbagai bentuk dan ukuran, (3) relatif mudah dalam pengerjaannya, (4) sangat dekoratif dan alami penampilannya, (5) relatif ringan.

Sebagai bahan organik kayu dapat terserang organisme perusak antara lain rayap tanah, dan disinilah poin penting dan peran pengawetan kayu. Kondisi iklim dan tanah di Indonesia termasuk banyaknya keanekaragaman tumbuhan sangat mendukung dalam kehidupan rayap. Lebih dari 80% daratan indonesia merupakan habitat yang baik bagi kehidupan berbagai jenis serangga ini. Makanan utama serangga ini adalah selulosa yang banyak terkandung dalam kayu, oleh karena itu masyarakat Indonesia lebih mengenal serangga ini sebagai serangga perusak kayu.

Pengetahuan tentang keawetan kayu sangat penting sehingga perlu dilakukan pengujian secara benar dan tepat. Oleh karena itu diperlukan standar pengujian untuk mengetahui sifat-sifat dari kayu, SNI 01.7207-2006 merupakan standar pengujian keawetan kayu yang dimiliki Indonesia.

Pada metode tersebut terdapat beberapa tahapan yang harus dilakukan dimulai dari persiapan bahan hingga prosedur kerja. Dalam melakukan suatu kegiatan penelitian ketepatan dalam melakukan prosedur kerja yang sesuai dengan tahapan pada standar merupakan faktor yang penting untuk mendapatkan keakuratan data yangdihasilkan.

Baca juga:
Yuk Mengenal Jenis-Jenis Jamur Kayu
Apa Kata Peneliti Tentang Jamur Kayu Blue Stain?

Apabila pada pelaksanaan pengujian terdapat kesalahan maka dapat mengakibatkan data yang dihasilkan pun menjadi tidak benar. Tahapan prosedur dalam proses pengujian meliputi bahan dan alat, persiapan contoh uji, prosedur kerja, pernyataan hasil, dan validitas data. Selain keakuratan data hal lain yang perlu diperhatikan adalah efisiensi dari suatu pelaksanaan pengujian.

Apabila dalam pelaksanaan pengujian pengawetan kayu, waktu dan prosedur yang diberikan efisien maka akan menghasilkan data yang optimal dari segi pelaksanaan maupun biaya. Namun pada standar SNI 01.7207-2006 terdapat beberapa prosedur yang masih dianggap rancu, pengumpanan dalam standar tersebut dianggap kurang efisien dan menyampaikan rekomendasi waktu pengujian yang paling efisien adalah 4 minggu, disebutkan juga bahwa kayu sengon dan karet berpotensi digunakan sebagai kontrol pada pengujian keawetan kayu skala laboratorium terhadap serangan rayap tanah (Coptotermes curvignathus Holmgren).

Hal lain yang perlu dievaluasi pada standar tersebut adalah bahwa contoh uji 2.5 cm x 2.5 cm x 0.5 cm yaitu ukuran yang sama untuk semua jenis kayu yang akan diujikan, padahal setiap jenis kayu memiliki berat jenis yang berbeda sehingga nilai kehilangan berat pada standar perlu dikaji ulang dan dilakukan penelitian tentang pembuatan contoh uji pengawetan kayu yang tepat guna memberikan hasil yang lebih akurat.

 

alterntif text

Leave a Reply