Mengenal Jamur Pelapuk Coklat Dan Jamur Pelapuk Putih

0
613

Kayu disekitar rumah kita, baik sudah berupa furniture atau dinding kayu sering ditumbuhi oleh jamur pelapuk kayu. Untuk penanganan yang benar, mari kita mengenalnya terlebih dahulu.

Kenapa jamur menyerang kayu? Paling tidak ada dua alasan bagi jamur untuk menyerang kayu. Pertama, kayu merupakan bahan berlignoselulosa yang kaya nutrisi bagi jamur. Jamur tidak seperti tumbuhan lainnya yang punya klorofil, tidak mampu menghasilkan nutrisinya sendiri melalui fotosintesis.

Jamur harus menguraikan bahan organik yang telah tersedia menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana sebagai nutrisinya dengan bantuan enxim-enzim yang dihasilkannya. Ke dua, kayu merupakan substrat yang diperlukan untuk media tumbuh dan berkembang biak bagi jamur. Kayu merupakan bahan higroskopik yang yang bisa menyerap kelembaban/ air dari sekitarnya.

Dalam konstruksi, kayu yang sering terkena air hujan langsung, bocoran, atau terkena tempiasnya, sering menjadi media tumbuh jamur yang baik, terutama bila kayu yang digunakan tergolong tidak awet dan tidak diberi perlakuan yang dapat meningkatkan ketahanannya dari serangan mikroorganisme, seperti perlakuan pengawetan dengan bahan kimia.

Ada dua tipe utama pelapukan, yaitu lapuk coklat dan lapuk putih. Secara umum, distribusi hifa pada kedua tipe pelapukan tersebut tidak banyak perbedaan. Tapi efeknya terhadap anatomi kayu lebih seragam pada lapuk putih dibanding pada lapuk coklat. Kedua kelompok jamur tersebut lebih suka berpenetrasi melalui noktah pada awal pelapukan.

Selain itu, keduanya membuat lubang pada dinding sel dan rongga yang sejajar dengan mikrofibril pada dinding sekunder. Jamur pelapuk putih (JPP) mendekomposisi lignin dan selulosa dari lumen ke luar sehingga dinding sel kayu menipis. Adapun jamur pelapuk coklat (JPC) mendekomposisi selulosa secara acak di seluruh bagian dinding sel, dengan meninggalkan lignin yang mempertahankan bentuk sel hingga tahapan akhir pelapukan sehingga sisa dinding collapse.

Perbedaan ketahanan berbagai jaringan, sel dan dinding sel terhadap pelapukan berkaitan dengan perbedaan komposisi kimianya, terutama kadar lignin. Jamur pelapuk kayu mengeluarkan enzim untuk mendegradasi kayu sehingga menjadi bahan makanannya. Diduga bahwa jamur bergerak ke dalam kayu melalui bagian yang paling kecil hambatannya.

Sehingga JPP dan JPC pada mulanya secara ekstensif berkoloni pada pori atau jari-jari (hardwood) dan pada saluran resin dan jari-jari (softwood). Hifa jamur harus bisa berpenetrasi ke dalam kayu baik melalui membran noktah maupun menembus dinding sel. Pembentukan lubang pada dinding sel merupakan pembeda jamur pelapuk kayu dengan jamur penghuni kayu lainnya.

Mekanisme pemboran dinding sel oleh JPP dan JPC diawali dengan pengeluaran enzim pada ujung hifa penetrasi yang mengurai lubang sebelum hifa masuk. Enzim juga dikeluarkan dari permukan sisi hifa yang menimbulkan pembesaran lubang pada dinding sel yang ditembus hifa. Enzim JPP dapat berdifusi dan mendegradasi pada jarak tertentu dari hifa yang menghasilkannya.

Serangan kedua jenis jamur pelapuk kayu tersebut mengakibatkan kehilangan berat kayu, berarti ada bagian dinding sel yang hilang. Umumnya pada kayu lapuk putih sedikit/ tidak terlihat penyusutan kayu atau collapse, sehingga bentuk kayu relatif tidak berubah walau pada tahap pelapukan lanjut. Selain itu ciri serangan JPP adalah tidak ada retak melintang serat. Kehilangan kekuatannya juga bertahap hingga kayu menjadi seperti spong.

Umumnya jamur pelapuk kayu putih menyerang hardwood, tapi bisa juga menyerang softwood. Dalam lapuk putih semua komponen utama kayu terdekomposisi dan digunakan oleh jamur. Dalam lapuk putih tidak ada retak melintang, kayu menjadi pucat, kadangkadang berbercak-bercak atau bergaris-garis putih, bahkan bisa terurai menjadi serat-serat putih, Dalam beberapa lapuk putih, selulosa masih utuh.

Laju konsumsi selulosa dan hemiselulosa oleh jamur pelapuk putih (JPP) relatif sama, sedangkan lignin relatif lebih cepat didegradasinya. Beberapa JPP lebih dulu menghilangkan lignin dan hemicellulose, walau pada akhirnya semua komponen dinding sel dirusaknya.

Jamur pelapuk kayu coklat (JPC) mengkonsumsi selulosa dan hemiselulosa, sedangkan lignin hanya dimodifikasi yang ditandai dengan adanya dimetilasi dan akumulasi hasil oksidasi polimer lignin. JPC menyebabkan kayu berwarna gelap, menyusut dan terserpihserpih seperti batu bata yang mudah hancur menjadi tepung berwarna coklat.

Kayu lapuk memiliki kerapatan yang lebih rendah daripada kayu normal, mengalami kehilangan kekuatan, menyusut secara berlebihan ketika mengering, mengalami perubahan warna dan sering diiringi perubahan bau. Pada pelapukan lanjut kayu menjadi lunak dan seperti spong, berserabut, berlubang-lubang dan rapuh. Kehilangan berat lapuk coklat adalah sekitar 70 % karena lignin masih ada. JPC biasanya menyebabkan penurunan kekuatan yang lebih cepat daripada yang disebabkan oleh JPP.

Kehilangan berat maksimum pada kayu lapuk coklat hanya 65 – 70 persen. Dinding sel tidak menipis seperti kayu lapuk putih. Bentuk sel pada awal pelapukan tidak berubah karena tertahan oleh kerangka lignin yang tersisa. Pada pelapukan lanjut dinding sel collapse mengakibatkan pengurangan ukuran sel dan ketebalan dinding. Collapse sangat beragam antar sel dan menyebabkan retak kayu yang lapuk akibat serangan JPC.

Selain kerusakan mikroskopik kayu yang relatif beragam (dibanding JPP), serangan JPC pada hardwood berbeda dengan pada softwood. Dekomposisi oleh JPC dimulai dari lapisan S2, sedangkan JPP memulainya dari dinding lumen (Meier, 1955), yaitu dengan terbentuk rongga-rongga atau kerusakan total dalam lapisan S2, sedangkan lapisan S3 tetap utuh, walaupun hifa ada dalam lumen dan melekat pada lapisan S3.

Bagian yang paling tahan dari serangan kedua jenis jamur pelapuk kayu adalah lamela tengah, terutama bagian ujung. Kerusakan lamela tengah terjadi pada pelapukan lanjut oleh JPP. Saluran pembuluh juaga relatif tahan dari degradasi JPC. Walaupun tidak seberat kerusakan lapuk putih dan coklat jamur pelapuk lunak (JPL) sering menimbulkan masalah juga. Jamur pelapuk lunak mendegradasi selulosa dan hemiselulosa, khususnya pada kayu berkadar air dan nitrogen yang tinggi, seperti pada jendela, lantai, pagar, dsb. Nitrogen diperolehnya dari tanah atau udara.

Akibatnya serangan JPL permukaan kayu menjadi lunak secara bertahap dan dangkal (3-4mm) dari permukaan ke dalam. Warna kayu juga menjadi gelap. Lapuk lunak dapat juga terjadi di tempat kering yang secara makroskopik tampak seperti lapuk coklat. Ciri kahs serangan jamur pelapuk lunak (JPL) adalah terbentuknya rongga longitudinal dalam dinding sekunder kayu dan terjadinya erosi dinding sekunder. Lamela tengah tidak terdegradasi JPL, tapi dapat termodifikasi pada pelapukan tingkat lanjut.

Lapuk lunak bisa menurunkan kekuatan kayu juga. Dalam pelapukan oleh JPL terjadi kehilangan karbohidrat, yang diiringi dengan peningkatan konsentarsi lignin dalam sisa kayu (Blachette, 2004). Kerusakan kayu oleh jamur pelapuk kayu mungkin semakin berat karena dapat mengundang perhatian beberapa jenis serangga perusak kayu.

Banyak serangga yang tertarik menyerang kayu berkadar air tinggi, contohnya adalah rayap kayu lembab dan rayap tanah. Hal lain yang disukai rayap adalah kondisi lembab dan hangat. Sehingga sarang rayap sangat ideal untuk pertumbuhan jamur pelapuk kayu yang menjadi sumber protein dan vitamin bagi rayap. Akumulasi kotoran rayap dalam sarang membantu pertumbuhan jamur.

Sejumlah kumbang berasosiasi dengan kelembaban yang tinggi dan jamur dalam furniture. Kumbang anobiidae biasanya tertarik oleh kelembaban dan jamur. Larva anobiidae memakan kayu. Larva anobiidae tidak dapat hidup dalam kayu berkadar air kurang dari 12%. Semakin kering kayu semakin lambat pertumbuhannya. Kumbang lainnya yang berasosiasi denga jamur disebut sebagai “kumbang jamur”, contohnya adalah: Cisidae, Cryptophagidae, Lathridiidae, Tenebriodiae, dan Cucujidae.

alterntif text

Leave a Reply